Senin, 17 September 2012

persebaya tunjuk danurwindo sebagagi penasehat teknik


Persebaya Tunjuk Danurwindo Sebagai Penasehat Teknik


Tak mau salah ambil dalam mengontrak pemain, Persebaya Surabaya berencana akan menggunakan jasa seorang penasihat teknik. Pelatih kawakan Danurwindo ditunjuk untuk mengisi posisi itu saat seleksi pemain nanti.
Persebaya akan memulai seleksi untuk pembentukan tim pada 25 September nanti. Berbeda dengan sebelumnya, CEO Persebaya I Gede Widiade tak ingin keputusan mengontrak pemain hanya berdasarkan penilaian pelatih dan asistennya saja.
"Saya ingin like and dislike dari tim pelatih saat seleksi dikurangi. Makanya saya tunjuk Danurwindo jadi advisor kita nanti," jelas Gede, Senin (17/9).
Memang, Danurwindo bukan orang baru bagi klub berjuluk Bajul Ijo tersebut. Saat masih bergabung dengan Liga Indonesia musim 2009-2010 lalu, ia pernah menangani Persebaya. Namun, kala itu prestasinya jeblok. Pelatih yang musim lalu menangani PPSM KN Magelang itu akhirnya digantikan Rudy W Keltjes sebelum akhirnya Persebaya terdegradasi.
Meski begitu, Gede tak ragu untuk menunjuk pria yang juga menjabat sebagai Direktur Teknik Timnas U-22 ini. Bahkan, Danur dikontrak semusim untuk menjadi penasehat teknik di tim pelatih yang dikepalai Ibnu Grahan tersebut. "Bukan seleksi saja, Danurwindo saya kontrak setahun," tandas Gede. (fjr/mac)

Jumat, 14 September 2012

Persebaya Dilirik Belasan Calon Sponsor

Laga Persebaya Surabaya kontra tim Liga Primer Inggris Queens Park Rangers (QPR) membawa keuntungan lebih bagi Bajul Ijo. Tak hanya menjadi hiburan bagi fans yang hadir di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, tadi malam, tapi juga menarik puluhan investor untuk menggandeng klub kebanggaan masyarakat Surabaya itu.

CEO Persebaya Gede Widiade mengatakan,terdapat sekitar 20 calon investor Persebaya yang ikut menyaksikan laga bergengsi itu. Kedatangan mereka tak sekadar undangan, tapi juga ingin melihat langsung gairah sepakbola di Surabaya sebelum memutuskan menjadi sponsor Bajul Ijo. “Laga ini menjadi salah satu pertimbangan investor sebelum membuat keputusan,“ ucap Gede. Investor yang datang ke stadion bukan hanya kelas lokal, tercatat 15 pengusaha asal Jakarta.

Sementara lima lainnya merupakan pengusaha asal Surabaya. “Yang hadir bukan orang sembarangan. Tapi, top level di masing-masing perusahaan. Salah satu calon investor yang tertarik membiayai Persebaya adalah Springhill, perusahaan asal Swiss yang bergerak di bidang properti. CEO Springhill ikut menyaksikan pertandingan. Ini menjadi pertanda baik untuk Persebaya musim depan,“ kata pemilik klub internal PS Rheza-Mahasiswa ini.

Selain dihadiri pengusaha Jakarta dan Surabaya, bos QPR sekaligus AirAsia Tony Fernandes juga ikut menyaksikan pertandingan. Bahkan, pria yang menguasai QPR sejak musim lalu itu sudah tiba di Surabaya sejak Minggu (22/7) malam. Bukan tidak mungkin, AirAsia juga tertarik menjadi sponsor Persebaya seperti di QPR. Apalagi, sebelumnya, Presiden Direktur AirAsia Indonesia Dharmadi sempat mengatakan peluang Persebaya mendapatkan sponsor dari AirAsia cukup terbuka.

“Kesempatan itu tetap ada. Dengan dipilihnya Surabaya, menunjukkan bahwa Tony sangat antusias melihat sepakbola Kota Surabaya,” ucapnya. Melihat sejarah, Persebaya pernah mendapatkan sponsor kelas kakap. Salah satunya adalah perusahaan bola lampu asal Belanda Philips pada musim 1996/1997. Philips merupakan sponsor utama klub papan atas Liga Belanda PSV Eindhoven.

Sayang, kerja sama itu tidak berlangsung lama. Selain berpeluang kembali mendapatkan sponsor kelas kakap, Persebaya ternyata sudah mendapatkan sponsor baru. Namun, khusus untuk laga Persebaya melawan QPR, yakni Metro Pantai Indah Kapuk dan Metro Tanah Abang. Selama masa persiapan menghadapi QPR, Erol Iba dkk kerap memakai kostum bertuliskan perusahaan properti asal Jakarta itu. Tak heran jika nama Persebaya menarik perhatian sponsor.

Maklum,selain punya basis ribuan suporter di berbagai daerah, nama Persebaya juga menjadi perhatian media,baik lokal maupun internasional. Laga Persebaya melawan QPR yang berakhir 2-1 untuk kemenangan QPR, misalnya, selain disiarkan live RCTI, juga diliput ratusan media, termasuk dari Korea Selatan dan Inggris.

sejarah awal muncul nya bonek

   istilah Bonek muncul secara tiba-tiba dan besar juga karena media massa yang awalnya bagus yang lambat laun justru mengalami pergeseran pengertian dan akhirnya lebih berkonotasi negatif. Masih ingat gimana dulu Jawa Pos dengan koordinator langsung Cak Dahlan Iskan pernah memberangkatkan ratusan bus, puluhan gerbong KA dan pesawat terbang menuju Jakarta. Tret..tret.. tetttt... begitulah tema yg usung Jawa Pos tahun 1988-an. Dan sebutan populer untuk suporter persebaya waktu itu adalah 'Green Force'. Antusias bukan hanya dari surabaya saja, tetapi juga datang dari kota-kota besar di Jawa Timur. Bahkan dalam suatu kolom di Jawa Pos selama 7 hari berturut2 ada komentar & kesan-kesan dari para peserta Tret tret tett yg tertulis dengan foto para peserta lengkap dengan alamatnya.
Begitu antusiasnya jawa pos sampai dalam head line news tertulis "Hijaukan senayan" dan sambuatn masyarakat surabaya dan jawatimur pun luar biasa. Dalam ceritanya ada yg sampai menggadaikan motornya, menjual TV, Tape, perhiasan istrinya dan peralatan rumah tangga lainnya, yg muda2 banyak yg harus mengamen dulu pokoknya harus bisa ke senayan !!.

Modal Tekad itulah semangat untuk meng-hijaukan senayan begitu menggebu. Sementara yg punya duit pas-pasan masih ada cara lain yaitu 'menggandol' truk secara estafet mulai dari Surabaya - Jakarta sambil mengamen di jalanan. Bahkan ada juga yg berangkat jauh2 hari sebelum pertandingan final (padahal persebaya belum tentu masuk final) dengan menumpang gerbong kereta pertamina yg jalannya kayak keong itu... pokoknya sampe Jakarta.

Semangat yang positif dan antusiasme tanpa ada ANARKISME dan KERUSUHAN dengan melibatkan massa banyak itulah yg mendapatkan acungan jempol banyak kalangan di Indonesia saat itu. Sebagai catatan senayan ketika itu dijejali 110 Ribu penonton dari Surabaya dan Bandung !! Suporter Persebaya sendiri sekitar 40% nya (masih kalah banyak dengan bandung yg memang jaraknya lebih dekat). Suatu rekor jumlah penonton yg barangkali sampai saat ini belum terpecahkan.

Belum lagi semangat heroik dari beberapa suporter persebaya yg memanjat dan merayap sampai ATAP bangunan senayan yg berbentuk lingkaran itu hanya untuk membentangkan spanduk super raksasa warna hijau tulisan putih yg bertuliskan "Merah Darahku Putih Tulangku Bersatu Dalam Semangatku".

Nah Semangat itulah dengan berbagai cara yg HALAL untuk datang mendukung persebaya ke senayan membuat beberapa media massa, terutama JAPOS sebagai pelopornya mulai mengistilahkan BONEK (Bondo Nekad), dalam as** tulisan mereka bahwa semangat hidup dan semangat untuk maju manusia perlu punya modal tekad yg kuat. Modal tekad atau Bondo Nekad atau Bonek sejatinya tidak seperti yg ditunjukkan oleh generasi bonek-bonek saat ini yg justru cenderung brutal, nekad dalam arti menghalalkan segala cara adalah bukan Bonek yang sesungguhnya.

Sebetulnya kesalahan juga dari para bonek sebelumnya yg tidak meninggalkan warisan bonek yg sebenarnya, juga media massa yg kadang ikut mengompori dan bahkan seakan-akan ikut membenarkan. Bahkan kerusuhan bonek sudah menjadi semacam rejeki buat mereka, karena berita tentang Bonek tentunya akan meningkatkan oplah surat kabar mereka.

Salah kaprah lainnya adalah istilah Modal Tekad dan Modal Nekad sebetulnya serupa tapi tak sama. Tekad lebih ke semangat untuk melakukan tindakan sedangkan nekad lebih ke tindakan yg dilakukannya. Seharusnya bukan Bondo Nekad tetapi Bondo Tekad... tetapi untuk kemudahan pengucapan lebih cenderung Bondo Nekad alias Bonek.

Kamis, 13 September 2012

BONEK suporter legendaris non anarkis

Rendi Irwan Diminati Klub Thailand

Surabaya - Titus Bonai berhasil go international dengan bergabung dengan tim Thai Premier League, BEC Tero Sasana. Tapi ternyata, bukan hanya Tibo yang diincar klub Thailand. Pemain Persebaya, Rendi Irwan juga masuk dalam bidikan tim Thailand lainnya, Police United.

Informasi yang dihimpun beritajatim.com, Rendi dibidik karena kelincahannya mengolah bola ke lapangan hijau. Selain itu, Rendi memiliki kecepatan di atas rata-rata. "Sebenarnya, ada dua pemain Persebaya yang diincar. Tapi yang paling diinginkan ya Rendi," ucap sumber internal di manajemen Persebaya.

Manajer Persebaya, Saleh Hanifah tak menampik kabar itu. Hanya saja, Saleh menyebut belum ada penawaran resmi yang ditujukan pihak Police kepada Persebaya. "Yang saya tahu pada satu pertandingan home, saya lupa lawan siapa, saya diberi info kalau ada orang Thailand yang duduk di royal box," cerita Saleh.

"Tapi saya tidak terlalu fokus karena saya konsentrasi ke pertandingan. Katanya sih mereka memantau salah satu pemain kita," lanjut pengusaha retail ini.

Sayang, menurut kabarnya Rendi enggan bermain di Thailand karena tidak mau jauh dari keluarganya. Rendi sendiri menjadi salah satu pemain yang besar kemungkinan akan dipertahankan oleh manajemen. Sebab selain produk asli Persebaya, Rendi sudah sangat klop dengan permainan Persebaya saat ini.[sya/kun]